السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله على نعماته والصلاة والسلام على المبعوث بأكمل
رسالته وعلى اله وأصحابه وأوليائه وامته اجمعين
Dengan rahmat dan inaayah kasih-sayang Allah semata, terhamparlah Asma Keindahan-Nya di alam semesta dalam jalinan santun-berkesetimbangan tanpa cacat sedikitpun. Begitu pula dengan kepemurahan kasih-sayang Allah S.W.T. semata, manusia (yang sebenarnya bergelimang kehinaan, kecacat-celaan bahkan dinyatakan selaku makhluq suka membantah atau menyanggah), dimunculkan-Nya selaku pusat penampil Keindahan Asma-Nya di tengah-tengah kehidupan bersemesta.
Sehingga secara tidak langsung, manusia ditengah-tengah alam semesta mengemban amanah selaku penentu kelangsungan mempertahankan keindahan dan kesamtun-setimbangan alam semesta cuatan Keindahan Asma-Nya. Kemuliaan sifat Allah S.W.T. yang telah sedemikian rupa tampak nyata dari sifat perbuatan-Nya yang senantiasa membimbing dan mendekatkan manusia dapat dipertahankan.
Kemuliaan bukan diukur dari pandangan duniawi, tetapi pucak kemuliaan manusia yang diharapkan dapat dipertahankan adalah kemuliaan dalam arti “tampilan manusia selaku wadah kecintaan Allah S.W.T.”. Inilah salah satu rahmat Allah yang tidak dapat diukur nilai ketinggiannya. Kenyataan inilah mendorong lahirnya kesadaran di dalam hati menghantarkan getar nada bersuara malu dari sudut kedalaman nurani dalam rangkaian kata sadar tidak bernilai arti yakni: “Segala puja dan puji syukur kami penulis persembahkan kehadirat Allah Dzat yang maha berilmu di atas mereka yang merasa diri berilmu, serta pencipta Maha sempurna di atas segala yang dianggap sempurna oleh cipta-duga rekayasa-logika-dusta terpola”.
Pengabdian sempurna adalah wujud syukur nyata terhadap diturunkan-Nya petunjuk Al-Qur’an jalan hidup terang-pasti, yang telah dicontoh-teladankan Rasulullah Muhammad S.A.W. selaku pelaksana kandungannya.
Untuk itu teriring desakan rindu-menggebu ungkapkan sholawat dan salam tertuju kepada Rasulullah Muhammad S.A.W. yang telah menghabiskan umur dan waktunya hanya untuk mengajak-himbau, menuntun ummat pengikutnya kearah keselamatan hidup sebagaimana dinyatakan pada firman Allah:
لقد جآءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم
بالمؤمنين رءوف رحيم
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (QS. At Taubah (9) : 128)
Sungguh pasti bahwa tiada sorang pun di muka bumi ini dapat dengan senang hati menjalani hidup dan kehidupan berada di jalan bengkok dalam kegelapan/kesesatan tanpa arah-tujuan jelas-pasti. Padahal Allah telah dengan tegas-nyata dan jelas berkehendak agar manusia dapat menjalani hidup dan kehidupannya, senantiasa berada dalam jalur rahmat-kasih-Nya yakni berada dalam kehidupan syurgawi.
….صلى والله يدعوا إلى الجنة والمغفرة باذنه …ج
“…sedang Allah mengajak ke syurga dan ampunan dengan idzin-Nya…” (QS. Al Baqarah (2) : 221).
Allah tidak suka melihat manusia hidup sulit dan sengsara berada dalam kehidupan neraka, sehingga diturunkanlah petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya agar manusia dapat menjaga kehidupannya tetap berada dalam rel/garis suratan arahan hidupnya. Petunjuk itu termuat dalam kandungan isi Al-Qur’an. Untuk itu, barangsiapa memfardhukan dalam kehidupan untuk senantiasa bersikap perilaku setimbang-selaras Al-Qur’an, tentulah akan mengembalikan jalan hidupnya sebagaimana jatah yang telah ditetapkan Allah, yakni berada dalam jalan hidup penuh rahmat-kasih-Nya di dalam kehidupan syurgawi.
Kemudahan dan kemuliaan seseorang hanya dapat diwujud-nyatakan dalam bentuk sikap perilaku yang setimbang-selaras Al-Qur’an. Sebaliknya, akan tersungkur jatuh dalam kesulitan dan kehinaan bila bersikap perilaku menyimpang Al-Qur’an, yang berarti hidup berada di jalan bengkok/menyimpang dalam kesesatan dan kemurkaan Allah.
Oleh karena itulah saudara-saudara yang dimulyakan Allah S.W.T.. Tujuan akhir dari hidup yang selaras dengan Al Qur’an adalah bagaimana hidup kita penuh dengan naungan cinta dan kasih sayang Allah S.W.T.. Karena arti dari hidup yang sebenarnya adalah “perjuangan untuk meraih cinta-Nya Allah S.W.T.” Untuk itulah kami hadir di sini dengan menyuguhkan hidangan langit berupa untaian kata mutiara berhikmah penyejuk-penyegar hati dan kehidupan yang berkesemestaan dan berkesinambungan yang terbungkus dalam wadah keilmuan murni terpadu bersifat qur’ani.
Dengan harapan mudah-mudahan Allah S.W.T. dengan cinta dan kasih sayang-Nya memberikan pertolongan kepada kita semua untuk bisa mendaya-guna-manfaatkan potensi yang ada pada diri kita yaitu ruh, rasa, hati, aqal dan nafsu sesuai dengan kehendak Allah S.W.T. serta setia melanjutkan perjuangan Rasulullah S.A.W. Amin.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الكاتب
Hormat Kami
Para Penulis & Pengurus Yayasan Iqomatudin
Jl. Parakan Asih no. 15 Soekarno-Hatta
Bandung-IndonesiaURL: http//hikmahrenunganmalam.wordpress.com
Email: alkaf.bandung@gmail.com
“gagal bukan kiamat”:akhina fillah..! kita tahu bahkan meyakininya,bahwa kegagalan yang dialami oleh kita hanyalah proses awal dari sebuah kesuksesan,dan yang terpenting”gagal setelah mencoba lebih berharga daripada gagal untuk mencoba”sehingga aneka ragam kegagalan yang terjadi dapat di renungkan dan di jadikan pelajaran,supaya kita sadar bahwa kita hanyalah makhluk lemah yang senantiasa mengharap pertolongannya,memang tidak enak bahkan sakit rasanya bila sesuatu yang kita dambakan berbuah kegalan,namun di balik semua itu kita dapat mengutip pengalaman yang tentunya tidak semua orang berpeluang untuk mengalaminya,dan yang terpenting bagi kita untuk selalu berusaha mencoba dan mencoba,toh semua itu tidak ada salahnya.meskipun pada ujungnya berbuah ke gagalan,dan tentunya dengan semua itu paling tidak kita dapat pengalaman baru,atau bahkan mungkin akan mengantarkan kita menjadi orang hebat jiwanya,tidak mudah menyerah dan pasrah dengan keadaan,hidup ini tidak lepas dari “gagal atau sukses” yang keduanya bagaikan sisi kanan dan kiri dari sebuah jalur kereta yang akan mengalami hal baik dan buruk secara bersamaan di setiap waktu,dan bagaimanapun baiknya hidup seseorang selalu ada hal buruk yang perlu diatasi,dan sebaliknya betapapun buruknya hidup seseorang selalu ada hal baik yang patut untuk disyukuri,memang kita tahu bahwa ketidakmampuan menghadapi kegagalan bisa membuat kita mudah menyerah,malu,marah,atau frustasi,sehingga bisa jadi seluruh hidup kita seperti badai yang tidak pernah berlalu,maka kita harus berfikiran positif dengan semua kegagalan yang terjadi,dan kita harus sadar bahwa resiko dari semua tindakan yang kita lakukan adalah “gagal atau sukses”namun perlu kita ingat..! kegagalan bukanlah kiamat atau akhir dari segalanya.
akhina fillah..!memang sangat tepat sekali,bahwa”kemulyaan” tidaklah diukur dengan pandangan duniawi,akan tetapi dapat diukur dari kecintaan dan ketaqwaan ukhrowi,yaitu kepada allah rabbul izzati, apalah artinya harta dan jabatan yang kita miliki kalau semua itu menyebabkan lupa pada sang pemberi,dan alangkah mulyanya di mata allah orang yang tahu berterimakasih.semua itu sesuai firman allah:inna akromakum indallahi atqakum.dan “lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzabi lasyadid” wallahu a’lamu bisshawab.
akhina..!memang kita tidak dapat menyangkal dengan ungkapan orang bijak yang mengatakan”pandangan suka menyebabkan mengabaikan segala kejelekan,dan pandangan benci menyebabkan mengabaikan segala kebaikan” namun semua itu tidak dapat dijadikan ukuran,karena baik menurut mereka belum tentu baik menurut allah,dan jelek menurut mereka belum tentu jelek bagi allah.wallahu a’lam.