هُوَ الَّذِى خَلَقَ لَكُمْ مَا فِى اْلاَرْضِ جَمِيْعًا …..
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلئِكَةِ اِنِّى جَاعِلٌ فِى اْلاَرْضِ خَلِيْفَةً ….
“Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu ……
Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi”……
(QS. Albaqarah (2): 29 – 30)
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِى هذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَاَبى اَكْثَرُ النَّاسِ اِلاَّ كُفُوْراً
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dan Al Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukainya kecuali mengingkari (nya)”. (QS. Al Isra (17) : 89)
Dibentang alam, penuh kesetimbangan
Tempat mengembara insan dalam pengabdian
Pengabdian murni temukan hakekat kehidupan
Kehidupan sejati, tegakkan keadilan
Menangis bumi, berat menggendong manusia
Manusia sombong dengan perbuatan dosanya
Tak menyadari kelak perut bumi menjadi rumahnya
Balasan kesombongan berjalan dimuka bumi seenaknya
Bila direnungkan mendalam firman Allah di atas, betapa Allah yang maha mulia telah mengangkat manusia selaku kholifah (wakil-Nya) di muka bumi ini. Diberinya manusia mandat untuk menjaga, mengelola dan mendayaguna- manfaatkan semua isi alam yang melimpah ruah ini. Diberinya lima modal dasar (ruh, rasa, hati, aqal dan nafsu). Sungguh merupakan derajat yang mulia jika amanah dapat dilaksanakan, dan sungguh derajat yang hina jika dilalaikan
Dibentang alam, penuh kesetimbangan. Menangis bumi berat menggendong manusia. Isyarat bahwa selaku kholifah, manusia belum mampu mewujudkan fungsinya selaku penjaga, pengelola, pelestari kesetimbangan alam. Malah berlaku sombong, mengumpulkan dosa, membuat kerusakan.
Jika demikian adanya, betapa berat resiko nantinya diterima manusia sebagai akibat atas perbuatannya. Semua menuntut pertanggung-jawaban kita di hadapan hakim yang maha adil atas perbuatan selaku hamba terpercaya pengemban amanah kekholifahan. Amanah tidak dilakukan, justru membuat kerusakan, sungguh berat akibatnya.
Penyesalan tiada guna, kesempatan masih ada, tekad bulat memperbaiki diri adalah langkah bijak. Sebagai langkah awal perbaikan diri, marilah cermati dengan seksama renungan hamba bijak tentang perjalanan hidup seekor induk ayam, wujud syukur firman Allah tentang mengambil pelajaran, berikut :
Di suatu pagi yang cerah, saat seulas fajar tersenyum ramah, kulihat induk AYAM dan anaknya ramai bahagia berjalan dan berjalan sambil mencari makan. Seketika aqal kuajak bertanya : “Kemanakah sang anak ayam akan dibawa induk berjalan ? Adakah tujuan pasti langkah dituju ? dikatakan ada, mungkinkah ayam memiliki perencanaan pasti ? dikatakan tidak, tetapi langkah nya pasti. Yach, memang demikianlah induk ayam tampak dalam kenyataan.
Mengalirlah rasa ingin tahuku untuk mengenal lebih dekat hidup dan kehidupan induk ayam. Tanpa setahu sang ayam, kuikuti terus perjalanannya. Tanpa kusadari, langkahku telah jauh mengikuti perjalanan induk ayam. Kala itu dengan rasa kagum diriku berkata : “Oh sosok gambaran seorang ibu yang amat bijak menaungi anaknya”.
Anak dididik tumbuh berkembang dalam kedewasaan. Tak pernah diajari menumpuk harta dan mewarisi harta. Seakan ada motto tertanam dalam pada jiwa anak-anak ayam, yakni : “ada hari ini dimakan, tak ada mari dicari”. Itulah yang kutangkap motto kehidupan ayam. Seharian penuh kulihat ayam bertebaran di muka bumi. Tak ada sedikitpun dari aktivitasnya yang menimbulkan erosi dan polusi.
Tibalah saatnya sang mentari di ufuk, itu pertanda senjapun beriring hadir, kulihat induk ayam mulai memutar haluan. Dengan lirih diriku berkata tanya : kemana lagi sang anak akan dibawa bertebaran, sementara haripun telah senja. Baiklah untuk itu akan kucoba membuntutinya. Apa yang terjadi ? Masya Allah, lirih daku bersuara, tak sedikitpun terlupakan jalan menuju kandangnya.
Padahal di siang hari kulihat jauh sangat dia mengembara. Saat bersamaan kesadaranku berkata : Seekor ayam hidup tanpa aqal, sekalipun jauh dunia dikejar, namun tempat kembali tak pernah dilupakan. Dalam renungan dakupun tertegun kutatap satu persatu segala yang ada di sekitarku. Aneh ! setiap yang kulihat seakan sambut berkata padaku :
Wahai sang pemegang mandat kekuasaan yang budiman, bawa dan bawalah kami dalam kasih dan cintamu, sebagaimana engkau dibawa dalam kasih dan cinta Rabb Pencipta. Yang kulihat saat itu : langit, matahari, bulan, bintang, bumi dengan muatannya, gunung-gunung, lautan, sungai, hewan maupun berjuta pesona tumbuh-tumbuhan. Mereka semua bagaikan anak kecil atau fitrah isyarat memohon perlindungan.
Daku pun heran dan bertanya : kemana dan dengan apa akan kubawa ?
Sampai disini daku hanya dapat diam beribu bahasa. Karena tak ada satupun jawaban dapat diberikan. Tak kusangka sampai sejauh ini bakal kualami. Hanya gara-gara membuntuti perjalanan induk ayam yang tampak amat bijak dan anggunnya. Kemanakah daku hendak mencari jawab, ulang tanya dalam diriku, adakah kiranya sosok lain kelak memberi jawab ? Sayup-sayup kutangkap nada rangkaian kata memberi jawab :
Lengan disingsing, lurus langkah adalah pasti
Banyak simpang ditemui, rasa bingung perlu hati-hati
Rapatkan diri dengan Ilaahi, kawat duri teratasi
Buka Qur’an suci, jalan ditempuh nabi-nabi
Bahtera Qur’ani pembawa selamat semesta ini
Di dermaga rahmat itulah tempat pernah dijanji
Wahai Allah wahai Robbi tempat diri berpulang
Apalah artinya diri kami laksana debu yang terbang
Sebutan insan budiman tak sepantasnya kami sandang
Kami tempat semesta bertumpu, ternyata tiang nan goyang
Inikah akibatnya bila mati rasa lembut kasih sayang
Semua tak dapat ditopang kecuali nafsu bersepak terjang
Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Ilmu hikmah yang sangat luas dan dalam. Diperoleh melalui perenungan, mengikatkan hati dengan yang maha berilmu. Dengan merenungi secara mendalam perjalanan sosok ayam yang menurut pandangan mata dan logika tiada berharga, diperoleh pendidikan dan pengajaran yang sangat tinggi makna kandungannya.
Sehingga pantaslah hamba yang demikian, senantiasa akan bergetar dan bercucuran air mata dikala diperdengarkan firman Allah :”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang beraqal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS.3:190-191)
Begitulah selayaknya manusia hamba kholifah, menggali ilmu melalui perenungan mendalam, diperoleh ilmu hikmah. Tidak didasarkan pada logika, yang menghasilkan ilmu pembuat gejolak dan kerusakan diri dan semesta. Dari renungan hamba yang doif, diketahui benar bahwa penjagaan dan pengelolaan serta pengembalian alam dalam kondisi laras lurus berkesetimbangan seperti sedia kala, hanya dapat dilakukan melalui keterkaitan hati dengan Allah, terbimbing hidup dengan cahaya Qur’ani. Berbuat atas dasar kehendak-Nya.
Thanx